Kamis, 11 April 2013

Mematuhi Suami Melahirkan Ketenangan

     Dari A'isyah r.a: Aku bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang lebih berhak dipatuhi oleh perempuan. Rasulullah. menjawab "Suaminya." Kemudian, aku bertanya lagi tentang siapa yang berhak dipatuhi dan ditaati laki-laki. Rasulullah, menjawab "Ibunya."

     Ketika akad nikah telah disahkan, wanita tadinya adalah milik kedua orang tua. Dimana kepatuhan kepada keduanya amat ditekankan. Setelah itu, kepatuhan itu dialihkan dan diutamakan kepada suami mereka. Tak heran jika Ibnu Taimiyah, berkata: "Sesungguhnya ketaatan kepada kedua orang tua kini berpindah kepada suami sehingga tidak ada lagi ketaatan istri kepada kedua orang tua."

Sebab, ketaatan kepada orang tua adalah karena kekerabatan, sedangkan ketaatan kepada suami adalah karena ikatan pernikahan. Oleh karena itu, istri tidak boleh pergi dari rumah tanpa izin suami, walaupun diminta oleh ayah, ibu atau yang lainnya. Demikian ijma' para ulama'. Jika suami ingin  mengajaknya pindah ketempat lain  dengan tetap memenuhi kewajibannya dan memperlakukannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah.  Ya.. karena suami adalah pemimpin yang wajib dipatuhi oleh istri, selama suami itu mengajak kepada kebenaran dan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah...

Bahkan jika suami durhaka istri boleh tidak mematuhi suami, lantas menasehati suami dengan cara yang bijaksana dan lemah lembut. Kenapa demikian besar peran dan posisi suami dalam rumah tangga ????
Hal itu adalah konsekuensi dari kedudukan suami "imam" dalam rumah tangga. Maka, jadilah imam yang baik. Tunjukkan istri dengan ketauladanan. Perlakukan mereka dengan hati dan perasaan. Karena sesungguhnya imam secara psikologis juga mengandung wewenang untuk bertindak dengan senang hati, melibatkan perasaan dan hati nurani. Imam yang baik bagi istri adalah suami yang mampu menyeimbangkan nalar dan hati. Rasional dan Emosi. Hasilnya adalah penataan yang berkeadilan terhadap istri dan anak-anaknya. Sehingga terbentuklah rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah.....


Semoga bermanfaat.... ^^ salam silaturahmi^^
















Loncatan Energi

Menulis
Menulis | Sumber: Kompasiana
Janji adalah utang, hal ini yang kuyakini selama ini. Mengutip kalimat dari buku ESQ yang ditulis oleh Ary Ginanjar , kurang lebih intinya seperti ini “Ketika kita berjanji pada seseorang, kita seakan menarik energi harapan orang tersebut, dan keseimbangan energi orang itu menjadi tidak stabil hingga energi tadi dikembalikan dalam bentuk realisasi janji.

Ini juga yang terjadi padaku, ketika Rani (pemilik blog ini) memintaku untuk menjadi penulis awal di blognya dan aku mengatakan kesanggupanku maka pada saat itulah aku menarik energi harapannya dan berharap aku menggunakan energi harapannya sebagai semangat hingga akhirnya aku mengembalikan energi tadi dalam bentuk realisasi janji, itulah postingan ini.